Subscribe to Zinmag Tribune
Subscribe to Zinmag Tribune
Subscribe to Zinmag Tribune by mail
BATRA (Basic Traning PII)
Shahih Bukhari (Serangkai Pengenalan Singkat)
CatHar di Akhir Juni
Histori PII Mesir
Mari Kita Peduli Khajali

Basic Training PII

Training Leadership Pelajar Islam Indonesia
BATRA PII

Shahih Bukhari

Shahih Bukhari (Serangkai Pengenalan Singkat)
Shahih Bukhari

HAKPW Mesir

Memperingati Ultah PPWS di Mesir
HAKPW Mesir

Mari Peduli Sipil Khajali

Mari Peduli Sipil Khajali
Sipil Khajali

Basic Training PII

Training Leadership Pelajar Islam Indonesia
BATRA PII

Tasawuf Apaan sih??

Akidah
Pengertian mengenai tasawuf sangat variatif, tergantung mereka -Orang yang bertasawuf- yang menggeluti ilmu ini, karena setiap orang memiliki interpretasi yang berbeda terkait dengan hubungannya secara vertikal terhadap sang Pecipta, yaitu Allah Swt.
Tuesday, April 28, 2009Read the full story

Haramkah Musik ?

Cathar
Pernah ketika harus kerja part time sehabis kuliah menjadi operator warnet, saya kedatangan pengunjung asal Rusia (?). Di dalam warnet yang terletak di kawasan Gamie' Nasr City Cairo tersebut saya mendengarkan alunan musik yang merdu dari Yusuf Islam, Friends & Children.
December 13, 2008 Read the full story

Muslim dan Kelompok² Islam

Akidah
Kali ini, CatHar ingin berbagai keyword berupa sikap kita -sebagai seorang muslim- terhadap kelompok, aliran, sekte, firqah, madzhab, group atau bahasa apa saja yang sejenisya. Semoga pembaca dapat menikmatinya.
Thursday, February 12, 2009 Read the full story

Refleksi Tafsir Al-Jami‘ li Ahkâmi al-Quran

Tafsir
Bismillah, Tafsir al-Qur'an berfungsi sebagai penjelas Kitâbullâh karena itu sudah tidak diragukan lagi ilmu ini sangat penting dibandingkan ilmu-ilmu al-Qur'an yang lain. Buku-buku tafsir pun telah banyak ditulis baik itu yang sudah tercetak maupun yang masih berbentuk manuskrip.
Thursday, July 24, 2008 Read the full story
Showing posts with label Tafsir. Show all posts
Showing posts with label Tafsir. Show all posts

Muhkam dan Mutasyabih

6:50 AM Reporter: Andy Hariyono 0 Responses

(Serangkai cara dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat)

Oleh: Andy Hariyono


Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Wajah Allah (Al-Qasas :88), Tangan Allah di atas tangan mereka (Al-Fath : 10), Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami (At-Thur : 48), (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas Arasy. (Thâha : 05)

Terdapat beberpa cara dikalangan ulama Islam dalam memahami terjemahan redaksional ayat-ayat al-Quran seperti diatas. Perlu diketahui sebelumnya, bahwa secara sederhana ayat al-Quran terbagi menjadi dua macam; pertama ayat Muhkamat dan kedua adalah ayat Mutasyabihat, "Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat".(Ali-Imran :7)

Surat Ali-Imran di atas memberikan sinyal bahwa didalam al-Quran terdapat ayat Muhkamat yang berbicara mengenai hal-hal yang pasti, sehingga ayat muhkamat ini jauh dari perdebatan karena kejelasnya dan mudah difahami oleh pembaca. Sebagai cotoh, ayat yang membicarakan Tauhid, kenabian Muhammad Saw, kewajiban membayar zakat, puasa, haji, haramnya riba, berzina, membunuh, mencuri dan lain sebagainya.

Adapun jenis ayat yang kedua adalah Mutasyabihat (samar-samar atau interpretable) yang membutuhkan intelektual yang cerdas dan pemikiran yang matang serta ijtihad yang mendalam guna memahami ayat tersebut, itu artinya tidak semua orang memahami ayat Al-Quran dengan mudah, ada ayat-ayat tertentu yang membutuhkan otoritas-otoritas tertentu pula dalam memahami redaksional al-Quran, seperti ayat mutasyabihat yang hanya dapat dipahami oleh -dalam istilah al-Quran- "ar' rasikhuna fi'l ilmi" atau orang-orang yang berakal.

Prof Dr. Syaid Ahmah Musayyar menuliskan dalam bukunya fatawa al-aqidah Islamiyah bahwasannya Imam Qurthubi dalam Tafsirnya menukil pernyataan salah seroang gurunya yang bernama Abi Abbas Ahmad bin Umar sebagai berikut, "Penamaan mereka sebagai "rasikhin" menunjukkan bahwasannya mereka mengetahui secara menyeluruh tentang ayat-ayat Muhkam dan mereka benar-benar memahami bahasa arab".

Dari sana, maka jelaslah keempat ayat diawal tulisan ini termasuk ayat-ayat mutasyabihat, dimana hanya mereka yang memiliki kapasitas tertentu saja yang dapat menjelaskan isi dari ayat tersebut. Masih Prof. Dr. Sayid Ahmad Musayyar dalam bukunya yang berjudulu Al-Ilahiyat fi'l Aqidah Al-Islamiyah menuliskan empat cara pandang dalam memahami ayat-ayat Mutasyabihat di kalangan ulama islam; 1. At'Tafwidh, 2.At'Tasybih, 3.At' Ta'wil, 4. Al-itsbat bi'dlawabithihi.

At'Tafwidh

Tafwidh atau dalam bahasa lainnya Menyerahkan segalanya kepada Allah Swt, dalam hal ini, mayoritas ulama klasik (salaf) generasi sebelum abad kelima hijraiyah, ada juga yang berpendapat mereka adalah tiga generasi awal; sahabat, tabi'in dan at'ba'u tabi''in - lebih condong menggunakan cara pandang tersebut. Dengan demikian mereka (ulama salaf) "lebih selamat" menurut Syihristani, karena mereka menyerahkan makna mutasyabih kepada Allah Swt. Sebagai contoh, surat Thaha ayat 5 yang berbicara mengenai persemayaman Allah swt diatas arsy.

Dari sini, para ulama klasik seperti Sufyat at'tsauri, Auza'i, Al-Laits bin Sa'ad, Sufyan bin Uyainah, Abdullah bin Mubarak dan Imam Malik memahami ayat tersebut sebagaimana adanya, artinya Allah Swt bersemayam di atas Arsy, mengenai persemayaman Allah tidak dapat diketahui, melainkan hanya Allah Swt yang mengetahuinya.

hal ini senada dengan catatan Ibnu Khaldun bahwasannya madzhab ulama klasik dalam memahami ayat muatsaybih ialah; menyerahkan segalanya kepada Allah Swt, dan tidak berkomentar mengenai maksud dari ayat tersebut. Biasanya kelompok ini selalu mengatakan prihal ayat mutasyabihat dengan kalimat “hanya Allah yang tahu maksudnya”.

At'Tasybih

Tasybih secara bahasa artinya penyerupaan atau antropomorfisme, maksudanya adalah menyerupakan Allah Swt sebagaimana ciptaan-Nya. Mereka yang memiliki paradigma tasybih ini hanya bersandar pada teks-teks ayat yang termaktub dan menafsirkannya secara literal saja, alasan mereka karena Al-Quran turun dengan bahasa arab yang jelas (bilisanin arabiiyin mubin). Jadi, cukuplah dengan melihat makna literal ayat dalam memahami ayat muatsyabih.

Sebutlah misalnya ke-empat ayat di awal tulisan ini, para ahli Tasybih berpandangan bahwa Tangan Allah seperti tangan manusia, begitupun Mata, wajah dan bersemeyamnya Allah swt sebagaimana manusia bersemayam.

At'Ta'wil

Pemberian pengertian atas fakta-fakta tekstual dari sumber-suber suci (Al-Quran dan Sunah) sedemikian rupa, sehingga yang diperlihatkan bukanlah makna yang sebenarnya (Hakikat) melainkan makna majazi. cara pandang yang ketiga inlah yang sering disebut dengan metode ta'wil atau Interpretasi metaforis. Ada sekelompok ulama yang berpandangan bahwa metode tasybih dalam memahami ayat mutasyabih sangatlah beresiko buruk bahkan bisa terjerumus dalam kekafiran, yakni penyerupan khalik dengan makhluk.

Maka, para ahli ta'wil beranggapan bahwa mereka (ahli tasybih) belum memahami bahasa arab dengan benar, karena dalam ilmu bahasa arab ada makna yang hakikat dan makna majazi. Jadi, para ulama ta'wil menafsirkan ayat-ayat mutasyabihat dengan menggunakan makna majazi bukan makna hakikat, berbeda dengan ahli tasybih yang hanya memahami secara tekstual saja sebagaimana keterangan sebelumnya. Sebagai contoh, tangan Allah, para ahli ta'wil mengartikanya sebagai kekuasaan Allah, Wajah Allah sebagai Dzat Allah, Penglihatan/Mata Allah sebagai Pengayoman Allah Swt dan lain sebagainya.

AL-itsbat bi'd Dlawabith

Ada sekelompok dari ulama klasik dan kontemporer yang tidak sependapat dengan ketiga metode (Tafwidl, Tasybih dan Ta'wil) di atas, melainkan menetapkan apa yang telah termaktub dalam Al-Quran (Al-itsbat Bi'd Dlawabith) di antaranya adalah Imam Abu Hanifah, menurutnya dalam kitab Al-Fiqih Al-akbar mengatakan bahwasannya Allah mempunyai tangan dan wajah dan jiwa, sebagaimana termaktub dalam Al-Quran dan tidak tergambarkan dalam benak ciptaan-ciptanNya (Manusia). Maka dari itu tidak boleh kita berpendapat bahwa tangan Allah adalah kekuasaan ataupun nikmatnya, akan tetapi TanganNya tidak dapat tergambarkan sedikitpun baik bentuk maupun sifatNya.

Gambaran secara sederhana dari ketiga metode di atas adalah, sebagai berikut, misalnya redaksional Ayat Al-Qura yang berbunyi; “Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka”

Ahli Tafwidl mengaatakan, Hanya Allah Swt yang tahu maksudnya, kita tidak boleh menetapkan Allah mempunyai tangan dan tidak boleh menafikannya, juga janganlah berpandangan bahwa ayat tersebut bermakna majazi ataupun hakiki.

Ahli Tasybih berpandangan bahwa Tangan Allah sama seperti Tangan Manusia, karean secara bahasa Tangan adalah tangan, dan dalam gambaran akal tangan manusia lebih rasional untuk digambarkan menjadi tangan Allah.

Ahli Ta'wil berpandangan bahwa tangan Allah di sana adalah kalimat Majazi yang artinya adalah kekuasaan Allah, Ahli Ta'wil ini tidak mengartikan ayat tersebut secara leterlek akan tetapi ada kalimat-kalimat dalam Bahasa Arab yang memiliki makna majaz.

Ahli It'sbat berpandangan bahwa Allah memiliki tangan sebagaimana ditetapkan di dalam Al-Quran dan tidak mengatakan; hanya Allah yang tahu maksudnya, atau tangan Allah seperti tangan manusia, atau tangan Allah adalah kekuasaan Allah.

Kesimpulan

Dari ke-empat cara pandang di atas, hanya tiga metode saja yang dapat kita jadikan sandaran untuk memahami ayat-ayat mutasyabihat, yakni; Tafwidl, Ta'wil dan Itsbat. Mengenai cara pandang tasybih sangat tidak relevan bila dijadikan pegangan, karena teori itu sama saja dengan penyerupaan Khalik dengan makhluk.

Mungkin para ahli tasybih lupa bahwa Allah Swt menetapkan diriNya sebagai "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia" (As-Syurâ : 11) "dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia". (Al-Ikhlas : 4).

Adapun ketiga carapandang lainnya (Tafwidl, Ta'wil dan Itsbat) bisa dijadikan sandaran untuk memahami ayat-ayat mutasyabihat, dengan Tafwidl para pembaca bisa lebih "selamat" karena tidak menafsirkan apapun, hanya menyandarkan makna ayat kepada Allah Swt. Kemudian dengan Ta'wil berarti telah mensucikan Allah Swt dari pengaruh-pengaruh Tasybih, dan terakhir Itsbat merupakan carapandang yang hampir sama dengan ta'wil, karena, ketika ahli itsbat menetapkan bahwa Allah mempunyai tangan, sedangkan dalam ilmu bahasa hakikat tangan pasti ada struktur tersendiri, baik tulang, jari, daging kulit dan lain sebagainya, maka tentunya bukan tangan seperti itu yang mereka maksudkan. Singkatnya, mereka juga bermaksud memaknakan tangan di sana dengan makna majazi. Wallahu a'lam Bi'shawab

Referensi

· Prof.Dr. Sayid Ahmad Al- Musayyar, Fatawa Al-Aqidah Al-Islamiyah, Maktabah Al-Iman Kairo, Cet. I Thn. 2007

· Prof.Dr Sayid Ahmad Al-Musayyar, Al-Ilahiyat Fi'l Aqidah Al-Islamiyah, Maktabah Al-Iman Kairo Cet. III Thn.2006

· Imam Bajury Tuhfatul Murîd ‘alâ Jauharatu't Tauhid dengan Ta'liq dari Tim Akidah dan Filsafat Universitas Al-Azhar, Thn.2006-2007

· http://quran.al-islam.com

· http://media.isnet.org/islam/Paramadina/Konteks/Takwil1.html


Read more...

Surat Al-Maidah 44-46

11:36 PM Reporter: Andy Hariyono 1 Response
Al-Qura'an surat al-Maidah ayat 44 - 46 menerangkan beberapa perkera mengenai hukum Allah. Imam Muslim dalam Kitab AL-Hudud Bab Rajmu'l Yahudi, Ahlu'dz dzimah fi'z zina mengatakan bahwa Rasul Saw bersabda ayat tersebut diturunkan untuk orang Kafir.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ayat ini (q.s. 5: 41) aturun berkenaan dengan dua golongan Yahudi. salah satu diantaranya, pada zama jahiliah, suka menzalimi yang lain, yaitu mereka memaksa hukum yang tidak simbang. Ababila si kuat (ekonominya) membunuh si lemah, maka fidyahnya (tebusanya) 50 wasaq. Sebaliknya apabila si lemah membunuh si kuat, maka fidyahnya 100 wasaq. Ketetapan ini berlaku hingga Rasulullah Saw diutus.

Pada suatu ketika si lemah membunuh si kuat, maka fidyahnya 100 wasaq. Berkatalah si lemah: "Apakah dapat terjadi di dua kampung yang agama, turunan, dan negaranya sama, membayar tebusan berbeda (setengah dari yang lain)? Kami berikan sekarang ini dengan rasa dongkol, tertekan, serta takut terjadi perpecahan. Tapi sekiranya Muhammad sudah sampai kemari kami tidak akan memberikan itu kepadamu. "Hampir saja terjadi peperangan di antara dua golongan itu. mereka bersepakat untuk menjadikan Rasulullah sebagai penegah. Mereka mengutus orang-orang munafik untuk mengetahui pendapat Muhammad. Ayat ini (q.S 5:41) diturunkan untuk memperingatkan Nabi agar tidak mengamvil pusing perihal mereka.


Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa sorang laki-laki dari suku Fadak telah berzina. Orang-orang Fadak menulis surat kepada orang-orang Yahudi di Madinah agar mereka bertanya kepada Muhammad tentang hukuman bagi pezina itu. Maka jika beliau memerintahkan dijilid (dipukuli), terimalah, dan jika bilau memerintahkan supaya dirajam, jangan diterima. Orang-orang Yahudi di madinah bertanya kepada Nabi Saw. Nabi pun menjawab seperti yang tersebut dalam Hadits di atas. Kemudian diperintahkan agar orang tersebut dirajam. Maka turunlah ayat tersebut di atas (Q.S. 5:42)

Imam Qurtubi dalam tafsirnya al-Jami li'l ahkamil'l Quran juga menuliskan bahwa ketiga ayat tersebut (Kafirun, dzalimun dan fasikun)
diturunkan untuk orang-orang kafir. adapun untuk orang muslim, yang tidak berhukum dengan hukum Allah, maka tidaklah kafir melainkan hanya sebuah dosa besar kecuali dia tidak berhukum dengan hukum Allah karena inging menentang Al-Quran dan mengingkari Rasulullah Saw maka ia dihukumi Kafir.

Ibnu mas'ud dan Hasan berkata bahwasanya ayat tersbut ditujukan bagi siapa saja yang tidak berhukum dengan hukum Allah Swt baik itu Muslimin, Yahudi dan orang-orang kafir. Hal ini sedikit berbeda pendapat dengan riwayat Ibnu Jarir yang disinyalir oleh ibnu Katsir dalam tafsir quranu'l adzim yang dikaranya. menurut riwaya Ibnu Jarir bahwasanya (Al-kafirun) dinisbahkan kepada orang-orang muslim, sedang (ad-Dzalimun) dinisbahkan untuk orang-orang Yahudi dan terakhir (Al-Fasiqun) bagi orang-orang Nasrani. Akan tetapi Ibnu Tsauri meriwayatkan bahwasanya Kafir disana bukanlah kafir keluar dari millah (agama), seperti kafir kepada Allah, malaikat, nabi-nabi dlsb. melainkan kafir, dalam hal ini, belum masuk katagori kafir millah.

Demikianlah cuplikan perbedaan pendapat mengenai pentingnya kepemimpinan, sehingga tidak sedikit dari umat Islam yang berselisih mengenai hal tersebut. perlu kami sampaikan bahwasannya berkenaan dengan hal kepemimpinan/keputusan, seperti khilafah, imamah dlsb adalah urusan manusia bukan urusan Allah Swt akan tetapi manusia tersebut harus berhukum/memutuskan dengan hukum Allah Swt.

Dr. Sayid Ahmah Musayyar menuliskan bahwa "kepemimpinan Allah" dalam al-Quran memiliki tiga arti.
1. Al-Hukmu Al-Kauni (al-Kahfi : 26) Ar'Ra'd :21, Al-Anam 75 )
2. Al-Hukmu Atasri'i (Al- Maidah : 1, Yusuf : 4, Al-Mumtahinah : 10)
3. Al-Hukmu Al-Ukhrawi (Al-Haj : 69, Az-Zumar: 46)

Pemerintahan Islam

Rasulullah Saw tidak meninggalkan model pemerintahan yang harus dijalankan oleh umat Islam, hanya saja Al-Quran dan Sunnah Rasul Saw memberikan pondasi-pondasi dasar mengenai cara berhukum dengan hukum Allah Swt, yang nantinya dapat diaplikasikan sendiri oleh umat Islam untuk membentuk pemerintahan.

Seorang pemimpin di dalam Islam haruslah bebas dari cacat, dan dia dituntuk untuk selalu berpegang teguh kepada syariat Allah Swt. Bukan berarti pemimpin tersebut lebih baik dari umat Islam yang lain hanya saja dia lebih banyak tanggung jawabnya.

Seorang pemimpin dalam Islam haruslah pemberi solusi dan benar-benar dibaiat oleh orang-orang yang merdeka dan harus berhukum secara adil dengan musyawarah. (An-Nisa : 58)

Tidak ada nash dalam al-Quran dan Sunah yang membahas mengenai hal daulah “pemerintahan” maka dari itu dalil yang sesuai syariah harus merujuk pada
1. Al-Quran
2. As-Sunah Shahihah
3. Ijam
4. Qiyas
5. Istihsan
6. Al-mashalih Al-Mursalah
7. Al-Urf
8. Al-Istishab
9. Syariat sebelum syariah Muhammad Saw

Adapun umat Islam yang menjalankan pemerintahan yang bertentangan dengan akidah tauhid maka ia termasuk golongan yang telah termaktub dalam Al-Quran pada surat At-Taubah ayat :31. Wallahua’lam bishawab

Disampaikan pada Taklim PII Mesir

Read more...

Al Azhar University

Blog Archive